Sengsara Kota Yang Dasyat
Karya : Ira Novita Situmorang
Sungguh pudar emas itu
Batu-batu suci terbuang disudut-sudut jalan
Anak-anak yang berharga dianggap belanga-belanga pecah
Anak-anak mengemis roti dan tak satupun memberi
Lidah bayi-bayi melekat pada langit-langit karena hausnya
Dulunya makan sambil duduk layaknya raja
Sekarang mati terkapar di jalan-jalan
Yang biasa duduk diatas bantalan-bantalan berbulu
Sekarang terbaring ditimbunan sampah-sampah busuk
Kedurjanaan kota itu melebihi kota Sodom
Pemimpin-pemimpin munafik lebih bersih dari salju lebih putih dari susu
Tubuhnya dihiasi batu-batu saphira
Sekarang rupa mereka lebih hitam daripada jelaga
Mereka tak dikenal dijalan-jalankulit mereka menyatu pada tulang-tulang
Mengering seperti kayu
Lebih bahagia mereka yang gugur karena pedang daripada mereka yang tewas karena lapar
Tuhan telah melepaskan segenap amarahNya, mencurahkan murkaNya yang menyala-nyala
Mereka berlari seperti orang buta dijalan-jalan kota
Dicemari darah dan dosa
Tuhan tak mau lagi memandang mereka
Karena merekalah yang memilihnya
Memilih untuk berkhianat pada Tuhan, memilih dunia daripada surga
Tuhan telah turun tangan hingga mereka merasakan neraka dunia
Begitulah kota yang menderita sengsara dan tersiksa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar